Empat Syarat Kembali ke Dunia Rohani
श्रीभगवानुवाच
इमं विवस्वते योगं प्रोक्तवानहमव्ययम् ।
विवस्वान्मनवे प्राह मनुरिक्ष्वाकवेऽब्रवीत् ॥१॥
sri-bhagavan uvaca
imam vivasvate yogam proktavan aham avyayam
vivasvan manave praha manur ikshvakave ‘bravit
(Bhagavad Gita 4.1)
Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, bersabda: Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga yang kekal ini kepada dewa matahari, Vivasvan, kemudian Vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manu mengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada Ikṣvāku.
Catatan: 1) Vivasvan adalah nama lain dari Surya, dewa matahari; 2) Manu yang dimaksud dalam ayat ini adalah Vaivasvata Manu (leluhur umat manusia) yang berkuasa di periode galaktik saat ini (Manu ketujuh); Iksvaku adalah putra Vaivasvata Manu yang menurunkan trah raja-raja Suryavamsa di Bumi. Silsilah raja-raja ini termuat dalam Itihasa dan Purana.

Terdapat sebuah fakta luar biasa dan sangat istimewa yang termuat di dalam sloka Bhagavad Gita 4.1, di mana Tuhan Sri Krishna secara langsung menyatakan bahwa Beliau mengajarkan ilmu pengetahuan rohani (bhakti yoga) ini kepada Vivasvan (Surya-deva), penguasa matahari. Menariknya, jika kita mencari dan menelusuri seluruh kitab suci agama apa pun di dunia ini, fakta bahwa Tuhan mengajarkan ilmu spiritual kepada penguasa planet lain, apalagi matahari, tidak akan pernah ditemukan di tempat lain selain di dalam Veda Bhagavad Gita. Fakta autentik ini menunjukkan kemuliaan ajaran ini, dan harapan Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan Krishna, agar umat manusia dapat kembali pulang menuju dunia rohani yang kekal.
Waktu hidup yang kita miliki sebagai manusia di dunia ini sesungguhnya sangatlah sempit. Sering kali, umat manusia menghabiskan waktu yang terbatas ini hanya untuk mengejar urusan materialistis, mengurus hal-hal duniawi, atau sekadar berbincang tanpa arah dari timur ke barat. Padahal, semakin materialistik kehidupan seseorang tanpa adanya kesadaran akan penciptanya, kondisinya justru bisa menjadi semakin menjijikkan di hadapan Tuhan, karena hal tersebut membuatnya menjadi sombong dan jauh dari realitas spiritual. Tujuan tertinggi manusia hidup di bumi bukanlah untuk menetap selamanya, apalagi hanya sekadar naik ke surga setingkat Brahmaloka yang sifatnya pun sementara. Tujuan sejati kita adalah pulang ke tempat yang tidak pernah hancur, yaitu dunia rohani, dunia spiritual, Vaikuntha.
Kerendahan Hati Dewa Matahari
Sloka Bhagavad-gita 4.1 ini seharusnya membuat hati kita tersentak. Coba kita renungkan. Dewa matahari adalah dewata yang sangat luar biasa. Tanpa adanya matahari, seluruh tata surya tidak akan bisa beroperasi, planet-planet tidak bisa beredar, dan kehidupan tidak akan pernah ada. Matahari bahkan dipuja oleh banyak umat manusia di berbagai belahan bumi. Namun, sosok sehebat dewa matahari pun masih harus belajar dan menerima bekal pengetahuan dari Tuhan Sri Krishna.
Jika dewa matahari yang amat perkasa itu saja tunduk dan mempelajari ilmu bhakti yoga ini, kualifikasi apa yang kita miliki sebagai manusia biasa di bumi ini sehingga kita sering kali merasa malas, ogah-ogahan, dan tidak serius dalam mempelajari ajaran Tuhan? Kesempatan menjadi manusia adalah karunia yang luar biasa, sehingga kita harus bertekad dan bertobat untuk tidak pernah meninggalkan jalan bhakti ini.
Empat Syarat Pulang ke Dunia Rohani
Tujuan utama ajaran Tuhan disampaikan ke dunia ini adalah agar kita kembali kepada-Nya tanpa gagal. Tuhan Sri Krishna telah menjanjikan bahwa siapa pun yang melakukan empat hal ini pasti akan kembali kepada-Nya. Janji ini tertuang dalam Veda Bhagavad Gita 18.65, yang menyatakan empat syarat sederhana namun sering diabaikan manusia:
मन्मना भव मद्भक्तो मद्याजी मां नमस्कुरु ।
मामेवैष्यसि सत्यं ते प्रतिजाने प्रियोऽसि मे ॥६५॥
man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī māḿ namaskuru
mām evaiṣyasi satyaḿ te pratijāne priyo ‘si me
Berpikirlah tentang-Ku senantiasa, menjadi penyembah-Ku, bersembahyang kepada-Ku dan bersujud kepada-Ku. Dengan demikian, pasti engkau akan datang kepada-Ku. Aku berjanji demikian kepadamu karena engkau kawan-Ku yang sangat Kucintai.
1. Selalu Berpikir Tentang Tuhan (Man-mana bhava) Berpikir tentang Tuhan bukan berarti kita hanya duduk melamun di depan komputer atau di tempat kerja memikirkan sosok-Nya. Berpikir tentang Tuhan mencakup empat sikap mental dan spiritual:
- Beriman Penuh: Memiliki keyakinan seutuhnya bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
- Berserah Diri: Menyerahkan seluruh aktivitas keseharian kita kepada Tuhan. Kita tidak perlu memberikan “proposal permintaan” yang mendikte Tuhan, melainkan berserah bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak-Nya.
- Mengabdi: Mengabdikan hidup murni untuk Tuhan. Pengabdian ini diterapkan dalam kehidupan nyata. Jika Anda seorang pegawai, jadilah pegawai yang baik; jika Anda seorang suami atau istri, jadilah pasangan yang baik, karena semua peran itu dijalani dan dipersembahkan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.
- Ikatakan Hati: Menumbuhkan kesadaran bahwa diri kita telah terikat dan sepenuhnya adalah milik Tuhan.
2. Menjadi Penyembah Tuhan (Mad-bhakto) Syarat kedua adalah komitmen untuk menjadi penyembah-Nya. Menjadi penyembah berarti memiliki kesediaan untuk dibimbing, menerima instruksi dari guru kerohanian, dan rela menghadapi segala bentuk ujian. Seperti halnya membuktikan cinta dengan pernikahan yang sah, membuktikan diri sebagai penyembah berarti mengikuti aturan dan proses spiritual secara tulus dan tanpa pamrih.
3. Bersembahyang kepada Tuhan (Mad-yaji) Tuhan meminta kita untuk bersembahyang kepada-Nya. Ini bukan demi kepentingan Tuhan, tetapi untuk menyucikan hati kita sendiri. Karena Tuhan adalah sumber kesucian, maka bersembahyang kepada-Nya akan menyucikan kehidupan kita dari dosa dan kegelapan hati. Kegiatan sembahyang mutlak membutuhkan tempat yang suci dan dikhususkan, seperti asram, pura, gereja, masjid, atau mandir. Kita tidak bisa sembarangan mengklaim “sembahyang di rumah saja cukup” sambil bermalas-malasan di tempat tidur. Tempat suci adalah kerajaan Tuhan di dunia ini. Jika kita tidak bisa datang ke tempat ibadah setiap hari, luangkanlah setidaknya satu hari suci dalam seminggu—seperti hari Minggu—tanpa boleh diganggu gugat oleh urusan bisnis, uang, atau obrolan kosong yang tak bermanfaat. Bersembahyanglah dengan fokus dan serius, jadikan waktu tersebut eksklusif untuk menghadap Tuhan.
4. Bersujud kepada Tuhan (Mam namaskuru) Syarat terakhir adalah bersujud dengan penuh rasa hormat di hadapan wujud Tuhan (Arca) di tempat suci. Ketika kita datang ke tempat ibadah, kita harus menyadari bahwa Tuhan adalah Raja yang memiliki kuasa penuh untuk memberkati kita, bukan sekadar tamu di rumah kita yang bisa kita mintai uang atau makanan sesuka hati. Sujud kita adalah simbol ketundukan total jiwa kepada Sang Pencipta.
Empat syarat: berpikir tentang Tuhan Sri Krishna, menjadi penyembah-Nya, bersembahyang di tempat suci kepada-Nya, dan bersujud kepada-Nya. Hanya empat itu yang diminta oleh Tuhan Sri Krishna agar kita bisa kembali ke dunia rohani. Dunia material ini tidak akan pernah memuaskan kita, bahkan mencapai surga setingkat Brahmaloka pun sifatnya hanya sementara karena Dewa Brahma sendiri pada akhirnya juga akan kembali ke dunia rohani (Vaikunthaloka).
Apabila keempat hal sederhana ini saja tidak bisa kita lakukan, kita patut mempertanyakan kualifikasi kita sebagai manusia dan kelayakan kita menerima berkah Tuhan yang sejati. Oleh karena itu, mulailah bertekad hari ini. Luangkanlah waktu untuk Tuhan, laksanakan pengabdian terbaik di kehidupan sehari-hari, dan tanamkanlah kerinduan mendalam di hati untuk bisa pulang ke rumah kita yang sejati, bersama Tuhan Sri Krishna, di dunia rohani yang kekal.








