Obat Segala Penderitaan

Ada sebuah kisah perjalanan seorang pemuda 20 tahun bernama Bima. Perjalanan hidupnya dimulai dari kemiskinan ekstrem. Bima tidur beralaskan kardus tipis di gang gelap. Suatu hari, dia menyelamatkan tas seorang preman. Aksi itu mengubah nasibnya. Dia diberi jatah lahan parkir liar dan naik level dari garis kemiskinan.

Namun, uang tunai harian menjadi jebakan baru baginya. Bima mulai terjerat lingkaran setan pinjaman online. Lalu, bantuan paman jauhnya, dia bisa bekerja menjadi office boy lewat jalur belakang. Dia naik tingkat ke kelas menengah bawah. Gaya hidupnya mulai dibiayai utang demi bisa bergaul.

Karena pernah menolong atasannya, Bima bisa naik jabatan menjadi admin database perusahaan. Dia bisa mencicil rumah dan juga mobil baru. Di balik itu, setiap malam dia dihantui ketakutan yang menyakitkan. Dia takut bank menyita rumah dan mobilnya jika dia kehilangan pekerjaan. Masalah demi masalah selalu berganti wajah di setiap level kehidupannya.

Kebanyakan manusia tidak tahu bahwa hidup ini menderita karena kekurangan pengetahuan. Pengetahuan yang sejati sengaja tidak diberikan oleh oknum-oknum tertentu di zaman Kaliyuga ini agar manusia tetap berada dalam penderitaan.

Si Miskin Naik Tingkat

Suatu ketika, Bima nekat mencuri database perusahaan dan diam-diam membangun bisnisnya sendiri. Dari bisnis rintisan itu, uang masuk sangat deras. Beberapa tahun kemudian, Bima malah stres karena kelelahan sehingga harus dilarikan ke UGD. Akhirnya, Bima merekrut manajer profesional untuk mengurus perusahaannya. Setelah merekrut manajer profesional itu, bisnisnya tumbuh makin besar. Asetnya menembus miliaran dan dia menjadi kaya raya.

Di level ini, masalah kebutuhan dasar Bima sudah selesai. Dia tidak perlu lagi berpikir tentang makan, minum, rumah dan kebutuhan sehari-hari. Semuanya melimpah ruah. Anehnya, kini Bima malah dihantui penderitaan psikologis berupa kebosanan ekstrem yang terus muncul. Liburan mewah ke Eropa terasa hambar baginya. Makanan restoran termewah pun tidak bisa dia nikmati. Walaupun Bima masuk di bursa efek melalui IPO dan berhasil meraup dana segar ratusan miliar rupiah, dia merasa semakin sendirian.

Kini Bima menjadi triliuner di puncak oligarki. Dia menguasai pasar, regulasi, dan juga kekuasaan. Namun, malamnya dipenuhi kesepian yang sangat mengerikan. Semua direktur di sekelilingnya berubah menjadi penjilat. Tiada seorang pun yang dekat dan jujur padanya. Semuanya ingin terlihat baik di hadapannya agar mereka bisa meraup kekayaannya.

Obat Penghilang Rasa Sakit

Dari kisah Bima, kita bisa memahami bahwa kekayaan material hanya mengubah bentuk penderitaan hidup, bukan menyembuhkannya. Semakin seseorang mengejar kekayaan material, kelihatannya dia semakin bahagia, tetapi sesungguhnya dia menjadi semakin menderita. Penderitaan itu hanya berubah wujud—mulai dari penderitaan fisik hingga mental. Ketika Bima masih miskin, dia sangat menderita karena kelaparan. Ketika Bima jadi miliarder, dia menderita kesepian ekstrem. Kedua penderitaan itu sesungguhnya sama saja, ada di takaran yang sama.

Srila Prabhupada, acarya besar Hindu abad modern ini menyebut bahwa kekayaan material hanya berfungsi layaknya obat penghilang rasa sakit. Ketika efek obat itu habis, rasa sakit yang sama akan kembali, bahkan lebih dahsyat.

Sayang sekali, kebanyakan orang tidak paham bahwa dia sedang menderita. Orang-orang tidak paham bahwa dia sedang menderita karena dia tidak tahu apa itu penderitaan yang sesungguhnya. Mengapa dia tidak tahu? Karena dia tidak diberikan anugerah kecerdasan.

Seekor babi suka makan kotorannya sendiri. Itu tentunya sangat menjijikkan bagi manusia yang memiliki kecerdasan dan akal budi yang lebih tinggi. Namun, bagi babi yang kecerdasannya terbatas, makan kotoran adalah hal yang membahagiakan. Jika babi itu memiliki kecerdasan dan pengetahuan seperti manusia, dia tidak akan mau bahkan untuk menyentuh kotorannya sendiri. Inilah situasi manusia saat ini. Kebanyakan manusia di zaman ini tidak memiliki pengetahuan tentang kehidupan yang sejati. Dengan kata lain, manusia kebanyakan tidak paham bahwa dia sedang menderita dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari penderitaan itu.

Ada golongan manusia bijaksana dan juga yang bodoh. Manusia bodoh sibuk menyusun rencana masa depan material. Mereka membangun pabrik besar tanpa kesadaran rohani. Srila Prabhupada menyatakan, “Orang-orang membuat rencana untuk masa depan selama 50 tahun, membuat pabrik-pabrik, tetapi mereka sebenarnya membuat rencana untuk lebih banyak penderitaan.”

Manusia memeras pikiran demi mengejar benda mati. Mereka tidak tahu cara meredakan kepusingan mentalnya. Kehidupan ideal seharusnya dijalankan dengan penuh ketenangan. Keberadaan di alam material akan selalu berselimutkan penderitaan. Penderitaan selalu ada di level mana pun kita berada.

Manusia tanpa pengetahuan spiritual selalu terjebak upaya sia-sia. Mereka hanya berlari dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Harta benda bukanlah solusi sejati menghapus air mata. Peningkatan status finansial tidak menghilangkan rasa sakit jiwa. Hal itu hanya mengubah bentuk penderitaan fisik menjadi psikologis.

Satu-satunya jalan keluar dari penderitaan material ini bukan dengan melupakannya dengan kenikmatan sesaat, tetapi dengan pengetahuan spiritual yang benar.

Satu-Satunya Obat Sejati

Akar segala penderitaan berasal dari arah keinginan kita. Semua hasrat pada dasarnya berasal dari roh atau atma. Karena tidak diarahkan pada Tuhan, atma menjadi bingung dan terjerumus dalam kebodohan. Akibatnya, atma mencari pemuasan melalui objek duniawi yang sementara. Hal itu membuat atma atau jiwa ini terjerat siklus penderitaan dalam kelahiran dan kematian yang berulang-ulang di alam material ini.

Obat nyata menyembuhkan pikiran adalah proses spiritual sejati, bukan spiritual abal-abal yang dibuat-buat. Langkah pertama untuk melakukan proses spiritual adalah mendengar pengetahuan suci atau sravanam. Proses ini dilanjutkan dengan melantunkan nama suci Tuhan atau kirtanam. Setelah itu, kesadaran seseorang akan meningkat ke tahap pemusatan pikiran atau meditasi. Meditasi sejati berarti memusatkan pikiran kepada nama, wujud, dan kegiatan rohani Tuhan Sri Krishna.

Jadi, hanya hubungan sejati dengan Tuhanlah yang dapat menghentikan penderitaan material ini. Proses menjalin kembali hubungan kita yang hilang dengan Tuhan ini disebut yoga. Di antara semua jenis yoga, bhakti yoga direkomendasikan oleh Tuhan Sri Krishna sendiri. Dalam proses bhakti, seseorang menyibukkan pikiran dan indera-inderanya untuk Tuhan Sri Krishna, mulai dari mendengar tentang-Nya, menyanyikan nama suci-Nya, membuat persembahan yang terbaik untuk-Nya, bersembahyang kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, hingga menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Proses spiritual bhakti yoga ini bagaikan sebuah perahu yang menyelamatkan seseorang dari lautan penderitaan material. Jika Anda sedang terombang-ambing di samudera dan tiba-tiba seseorang datang membawa perahu, maka itulah pertolongan terbaik. Tuhan Sri Krishna datang di zaman Kaliyuga ini dalam wujud nama suci-Nya. Dengan berpegangan pada nama suci Tuhan Sri Krishna itu, orang dapat mengarungi samudera penderitaan dan mendapatkan hubungan sejatinya kembali dengan Tuhan.

Inilah satu-satunya obat penawar sejati bagi jiwa yang menderita di alam material ini. Kaki-padma Tuhan Sri Krishna adalah minuman keabadian yang melenyapkan segala dahaga sang jiwa selama berjuta-juta kelahiran di dunia ini.