Siapakah Diri Kita yang Sejati?
Hampir setiap hari, orang sering terjebak dalam rutinitas yang seolah tak ada habisnya. Pagi hari orang bergegas bekerja, memikirkan tagihan, membesarkan anak, dan berusaha mengamankan masa depan. Namun, pernahkah di sela-sela hidup ini kita bertanya pada diri sendiri “Siapakah saya sebenarnya? Untuk apa sebenarnya saya hidup dan melakukan semua ini?”
Sering kali, jika ditanya siapa diri kita, kita akan refleks menunjuk dada atau wajah kita. Kita terbiasa mengidentifikasi diri dengan tubuh fisik ini. Padahal, ajaran suci Veda berulang kali mengingatkan bahwa diri sejati bukanlah badan jasmani, melainkan atma—roh atau jiwa yang abadi. Atma ini adalah bagian percikan Tuhan, penuh dengan sat (kesadaran); cit (pengetahuan) dan ananda (kebahagiaan). Selama ini, kita melupakan diri kita yang sejati itu, melupakan hubungan kita dengan Tuhan yang adalah asal kita yang sejati. Itulah sebabnya kita menderita di dunia ini.
Akar semua penderitaan di dunia ini adalah orang hanya ingin memuaskan badannya, bukan memuaskan Tuhan. Banyak orang pergi berdoa ke tempat ibadah atau ke tempat suci, tetapi apa yang mereka lakukan? Meminta rejeki, kesehatan, umur panjang dan sukses diterima bekerja di luar negeri. Semua permintaan itu tida pernah memuaskan Tuhan, tetapi menjadikan Tuhan sebagai pemuas keinginan material kita. Itulah sumber penderitaan kita.
Tubuh Jasmani adalah Kendaraan, Bukan Tujuan
Kitab suci Veda Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana) menyimpan sebuah kisah mendalam tentang permaisuri-permaisuri Raja Hiranyaksa yang meratapi kematian suami mereka. Saking lekatnya rasa cinta mereka pada wujud fisik sang suami, mereka menolak jenazahnya dibakar, bahkan ketika matahari telah condong tenggelam di ufuk barat. Tanpa sadar, ratapan itu lahir dari ilusi yang kuat, sebuah kebingungan yang menganggap bahwa badan fisik yang sudah tak bernyawa itu adalah diri sang suami itu sendiri.
Kisah ini adalah cermin bagi kita. Terkadang kita bertindak layaknya orang yang mengira bahwa pakaian yang kita kenakan adalah diri kita sendiri. Kita menghabiskan begitu banyak waktu, biaya, dan air mata untuk merawat “pakaian” (tubuh dan keduniawian) ini, bahkan rela merasakan sakit demi terlihat indah. Tentu, merawat tubuh dan berpakaian rapi adalah hal yang penting untuk mendukung kehidupan. Namun, masalahnya muncul ketika kita melupakan si pemakai pakaian tersebut, yaitu roh (atma). Saat kita terlalu lekat pada hal-hal yang fana, kita akan mudah kecewa oleh perubahan hidup (perubahan badan).
Mengubah Pekerjaan Menjadi Pelayanan kepada Tuhan
Mungkin kita lantas berpikir, “Apakah ini berarti saya harus meninggalkan pekerjaan saya, berhenti memikirkan keluarga, dan menyepi di ashram?” Tentu tidak. Kebenaran rohani tidak menolak kehidupan kita saat ini, melainkan mengajak kita untuk mengubah sudut pandang. Segala sesuatu yang kita miliki dan kerjakan—uang, jabatan, atau urusan rumah tangga—hakikatnya dapat digunakan untuk melayani Tuhan.
Bayangkanlah sebuah dilema sederhana. Anda memiliki kewajiban pelayanan di tempat suci, namun di saat yang sama Anda harus bekerja untuk mencari nafkah. Apa yang harus dipilih? Jawabannya sederhana. Jalankan tanggung jawab Anda di tempat kerja. Jangan jadikan Tuhan sebagai alasan untuk lari dari kewajiban hidup. Namun, ubahlah niat di dalam pikiran Anda. Saat Anda melangkah ke tempat kerja, berdoalah, “Oh Tuhan Sri Krishna, maafkan saya… jadikanlah ini semua adalah untuk pelayanan bakti kepada-Mu”. Dengan kesadaran ini, aktivitas menanak nasi, mengetik di depan komputer, hingga mengurus anak tidak lagi menjadi beban duniawi yang mengosongkan jiwa, melainkan persembahan cinta kasih (bhakti) yang bermakna.
Yakinlah Sepenuhnya pada Kekuatan Nama Suci Tuhan Sri Krishna
Untuk bisa mempertahankan kesadaran bahwa segala sesuatu terhubung dengan Tuhan, kita membutuhkan jangkar rohani. Pikiran kita sangat mudah terombang-ambing oleh kekhawatiran masa depan. Di sinilah letak pentingnya melantunkan nama suci (Japa).
Nama suci Tuhan Sri Krishna tidak hanya sekadar doa yang dihapalkan, melainkan permohonan agar jiwa kita dibimbing keluar dari kegelapan maya menuju cahaya rohani yang terang benderang. Kehidupan yang sejati adalah kehidupan yang berada di dalam terang tersebut. Jika kita merasa belum mampu duduk berdoa selama berjam-jam karena kesibukan, imbangi hari-hari sibuk itu dengan memperbanyak lantunan japa di mana pun kita berada. Bawalah tasbih ke mana pun Anda pergi. Setiap ada kesempatan, ambillah tasbih dan mulailah berjapa. Tuhan Sri Krishna hanya bisa dikenali dan didekati dengan bhakti.
Menjadi Bulan di Antara Bintang-Bintang
Tuhan Sri Krishna tidak pernah jauh. Beliau ada di dalam diri setiap makhluk hidup dan menjadi teman yang menuntun kita menjauh dari kesalahan, asalkan kita mau membuka pintu hati. Merawat kedekatan dengan-Nya bukanlah pekerjaan tambahan yang memberatkan, melainkan penawar racun duniawi yang meringankan beban hidup kita sehari-hari.
Hari ini, mari kita renungkan kembali arah langkah kita. Tidak perlu membandingkan perjalanan spiritual kita dengan orang lain. Lakukanlah kewajiban rohani Anda dengan sebaik-baiknya. Cintai keluarga Anda, namun serahkanlah hasil akhirnya kepada Tuhan Sri Krishna. Hiduplah dalam terang bhakti, dan biarkan cahaya nama suci-Nya memancar perlahan di tengah kegelapan dunia dan menuntun kita. Jadilah bulan purnama di antara bintang-bintang dengan senantiasa mengucapkan nama suci Tuhan Sri Krishna.








