Tuhan “Mencuri” Nasi Manis untuk Penyembah-Nya
Siapakah Sri Madhavendra Puri? Sri Madhavendra Puri adalah seorang guru kerohanian yang sangat termashyur dalam sejarah tradisi Gaudiya Vaishnava dan bhakti yoga secara umum. Beliau adalah guru kerohanian dari Sri Isvara Puri, yang kelak menjadi guru kerohanian dari Sri Caitanya Mahaprabhu. Sri Madhavendra Puri menerima diksa dari Sri Laksmipati Tirtha, yang merupakan bagian dari garis perguruan Veda Madhvacharya Sampradaya. Sri Madhavendra Puri memiliki banyak murid, namun yang paling terkemuka adalah Sri Advaita Acharya dan Sri Isvara Puri.

Sri Madhavendra Puri selalu dipenuhi dengan rasa cinta yang luar biasa kepada Tuhan Sri Krishna. Seringkali, beliau tidak sadar akan keadaan di sekitarnya dan tidak tahu sedang berada di mana atau jam berapa saat itu. Jika beliau melihat awan mendung yang gelap, beliau bisa jatuh pingsan karena teringat pada warna kulit Tuhan Sri Krishna yang kebiruan. Sri Madhavendra Puri juga adalah sosok pertama yang memperkenalkan cinta kasih yang manis kepada Tuhan (madhurya bhava) dan rasa cinta dalam perpisahan dengan Tuhan (viraha bhava) di dalam garis perguruannya. Beliau dikenal sebagai tunas pertama dari pohon pengabdian bhakti kepada Tuhan Sri Krishna.
Tuhan Sri Krishna Menyamar
Kisah hidup Sri Madhavendra Puri dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa ajaib. Suatu hari di Vrindavana, Sri Madhavendra Puri sedang beristirahat di bawah sebuah pohon. Beliau baru saja selesai berjalan parikrama mengelilingi bukit suci Govardhana, yang kelilingnya sekitar 22 kilometer. Saat sedang beristirahat, seorang anak penggembala sapi misterius yang masih kecil mendatanginya dan memberinya sekendi susu.
Anak kecil itu bertanya mengapa Madhavendra Puri tidak meminta-minta makanan sebagaimana layaknya seorang sannyasi atau babaji. Sannyasi yang telah meninggalkan ikatan duniawi biasanya mengandalkan sumbangan makanan dari warga sekitar. Namun, Madhavendra Puri memiliki prinsip yang kuat. Beliau akan berpuasa jika tidak ada orang yang memberinya makanan secara sukarela. Beliau tidak akan meminta-minta.
Anak kecil yang tampan itu berkata bahwa di desanya tidak ada orang yang boleh kelaparan. Dia berjanji akan kembali lagi nanti untuk mengambil kendinya setelah selesai memerah susu sapi.
Setelah meminum susu tersebut, Madhavendra mencuci kendinya dan menunggu anak itu kembali. Namun, anak itu tidak kunjung datang hingga akhirnya Madhavendra tertidur. Dalam tidurnya, anak penggembala misterius itu muncul di mimpinya dan mengungkapkan bahwa Dia sebenarnya adalah Tuhan Sri Krishna (Sri Gopala).
Dalam mimpi itu, Tuhan Sri Gopala menuntun Madhavendra ke sebuah semak-semak di dalam hutan. Sri Gopala bercerita bahwa Dia telah terkubur di sana selama ratusan tahun dalam wujud arca. Arca Gopala ini awalnya didirikan oleh Raja Vajranabha, cicit dari Tuhan Sri Krishna ketika Beliau turun ke bumi di zaman Mahabharata. Namun, ketika pasukan Mughal menyerang Vrindavana, pendeta kuil menyembunyikan arca tersebut di semak-semak lalu melarikan diri. Sri Gopala mengeluh bahwa Dia sangat menderita karena kepanasan, kedinginan, dan kehujanan selama berada di sana. Dia telah menunggu Madhavendra untuk menyelamatkan-Nya.
Mencari Arca Sri Gopala
Keesokan paginya, Madhavendra terbangun dan merasa sedih karena awalnya tidak mengenali bahwa anak kecil itu adalah Tuhan yang sangat dicintainya. Beliau lalu menceritakan mimpinya kepada para penduduk desa. Mereka bersama-sama pergi ke lokasi yang disebutkan dalam mimpi dan mulai menggali semak-semak itu. Warga sangat takjub dan gembira ketika mereka benar-benar menemukan arca Sri Gopala tertanam di sana.

Arca Sri Gopala yang berat itu kemudian diangkat ke puncak bukit Govardhana dan didudukkan di atas singgasana yang indah. Arca tersebut dibersihkan dan dimandikan dengan ratusan kendi air yang diambil dari danau suci Govinda Kunda. Setelah itu, mereka mengadakan festival perayaan yang sangat besar bernama Annakuta (atau Govardhana Puja). Dalam festival ini, makanan yang sangat banyak disajikan menyerupai gunung untuk dipersembahkan kepada Tuhan Sri Gopala. Tidak lama kemudian, dua orang brahmana (pendeta) dari Bengala tiba. Sri Madhavendra Puri menyerahkan tugas pemujaan arca kepada mereka.
Tuhan Memerintahkan Mencari Kayu Cendana
Dua tahun berlalu dengan sangat damai. Tiba-tiba, Tuhan Sri Gopala kembali muncul dalam mimpi Madhavendra Puri. Tuhan mengatakan bahwa tubuh arca-Nya masih terasa sangat panas meski sudah dimandikan dengan banyak air. Karena itu, Tuhan Sri Gopala memerintahkan Madhavendra untuk pergi ke Jagannatha Puri di daerah Orissa untuk mencari kayu cendana. Pasta dari kayu cendana ini nantinya akan dioleskan ke tubuh arca Sri Gopala agar beliau merasa sejuk.
Tanpa memikirkan kenyamanan pribadinya dan tanpa meminta-minta makanan, Madhavendra Puri langsung memulai perjalanan yang jaraknya mencapai ribuan kilometer dari Vrindavana di India utara ke Orissa di Inda tengah-timur. Dalam perjalanannya menuju Orissa, beliau melewati daerah Bengal dan singgah di kota Santipur. Di sana, Sri Advaita Acarya memohon untuk diberikan diksa menjadi muridnya, dan Madhavendra pun mengabulkannya.
Tuhan “Mencuri” Nasi Manis
Perjalanan berlanjut hingga beliau tiba di sebuah tempat bernama Remuna. Di sana, beliau mengunjungi kuil arca Gopinatha dan sangat terpesona melihat keindahannya hingga beliau menari dan bernyanyi. Beliau mendapat cerita dari pendeta kuil bahwa ada persembahan khusus berupa nasi manis (khira atau amrita Keli–terkenal sampai sekarang sebagai prasadam khas kuil itu) yang sangat lezat, yang disajikan setiap malam dalam 12 mangkuk tanah liat.
Madhavendra Puri berpikir dalam hati, “Seandainya saya bisa mencicipi sedikit saja prasadam nasi manis ini, saya bisa mempelajari resepnya dan membuatkannya untuk Gopala di Govardhana.”. Namun, beliau tidak memberitahu siapa pun tentang keinginannya ini. Setelah acara persembahan selesai, tanpa meminta makanan, beliau diam-diam meninggalkan kuil dan pergi ke pasar kota untuk duduk sambil terus berjapa mahamantra hare krishna.
Malam itu, hal ajaib kembali terjadi. Arca Gopinatha tiba-tiba muncul dalam mimpi pendeta kuil dan memberitahunya bahwa Dia dengan sengaja menyembunyikan satu mangkuk Khira di balik tirai altar. Sri Gopinatha memerintahkan pendeta itu untuk memberikan mangkuk tersebut kepada seorang sannyasi bernama Madhavendra Puri yang sedang duduk di pasar.
Pendeta brahmana itu segera terbangun, membuka pintu kuil, dan benar saja, dia menemukan mangkuk nasi manis yang “dicuri” oleh Tuhan itu. Dia segera berlari ke pasar sambil meneriakkan nama Madhavendra Puri. “Madhavendra Puri ji! Siapa yang bernama Madhavendra Puri ji? Engkau adalah orang yang paling beruntung di tiga dunia karena Tuhan sendiri rela mencuri nasi manis untukmu! Ambillah prasadam ini dan makanlah dengan bahagia!”

Madhavendra Puri sangat bahagia mendengar kisah itu. Setelah memakan hidangan prasadam suci tersebut, beliau memecahkan mangkuk tanah liatnya dan mengikat pecahan-pecahan itu di kainnya. Setiap hari, beliau memakan sedikit bagian dari pecahan mangkuk itu dan tenggelam dalam kebahagiaan rohani. Karena kejadian ini, arca di Remuna akhirnya dikenal dengan sebutan “Khirachora Gopinatha” yang berarti Tuhan Gopinatha Sang Pencuri Nasi Manis.
Perintah Terakhir dan Akhir Hidup
Sri Madhavendra Puri lalu melanjutkan perjalanannya ke Jagannatha Puri. Setelah berhasil mengumpulkan semua kapur barus dan kayu cendana, beliau singgah kembali di kuil Khirachora Gopinatha di Remuna pada perjalanan pulangnya. Pendeta kuil yang mengenalinya memberinya penghormatan dan seporsi Khira.
Menjelang akhir malam saat beristirahat, Tuhan Sri Gopala kembali datang ke mimpinya dan memberikan instruksi baru. Sri Gopala menyuruh Madhavendra untuk mengoleskan semua pasta cendana itu ke tubuh arca Gopinatha di Remuna saja. Sri Gopala menjelaskan bahwa diri-Nya dan Gopinatha adalah Tuhan Sri Krishna yang sama, sehingga mengoleskan cendana pada arca Gopinatha sama saja dengan mengoleskannya pada Sri Gopala di Vrindavana.
Madhavendra Puri sangat bahagia menerima perintah yang meringankan perjalanannya ini. Beliau tinggal di kuil Remuna sampai semua persediaan kayu cendana habis dioleskan ke tubuh Sri Gopinatha.
Di akhir hidupnya, Sri Madhavendra Puri terus mengucapkan sebuah syair sedih yang berisi rasa rindunya yang sangat dalam kepada Tuhan: “O Tuhan yang berbelas kasih kepada orang miskin! Kapan saya akan melihat-Mu lagi? Tanpa melihat-Mu, hati saya sangat menderita…”. Mengucapkan syair ini selalu membuatnya pingsan dalam kebahagiaan cinta rohani. Beliau akhirnya meninggalkan dunia ini dan dimakamkan (samadhi) di Remuna, tepat di dekat kuil Kshira-chora Gopinatha.








