Apakah Hindu Mengenal Iblis?
Ketika orang berbuat dosa, dia kadang menyalahkan sosok bernama “iblis” yang menjadi biang kerok dosanya. Bagaimana menurut Hindu?

Adakah Sosok “Iblis” dalam Literatur Suci Veda?
Jawabannya adalah, ya. Sosok iblis itu memang ada. Iblis, yang dalam bahasa Veda disebut sebagai Adharma atau Kali, adalah sosok kepribadian dosa yang menguasai zaman Kaliyuga.
Jauh sebelum agama-agama besar di dunia ini muncul, kitab suci Veda telah mencatat sejarah turunnya iblis. Veda tidak menyebutkan kata ‘iblis’, tetapi “Kali”. Kali adalah manifestasi dari adharma (kejahatan, dosa). Kali dalam konteks ini berbeda jauh dengan Dewi Kali, salah satu manifestasi Durga-devi. Kali yang dimaksud dalam Veda sebagai anak-cucu Adharma adalah sesosok hitam pekat dan mengerikan. Kitab Suci Veda Kalki Purana menyebutkan bahwa Kali berwujud amat mengerikan, berwarna hitam pekat seperti jelaga, berbau busuk, berlidah merah membara, mulutnya penuh fitnah, dusta dan hinaan, serta melakukan segala jenis perbuatan berdosa.
Kitab Suci Veda Bhagavata Purana membahas dengan detail bagaimana Kali memasuki peradaban manusia di awal Zaman Kaliyuga dan membuat peradaban manusia menjadi merosot.
Lima puluh abad silam, seusai perang Mahabharata di Kuruksetra, Kali mulai memasuki peradaban manusia. Didukung oleh formasi bintang dan planet yang kurang mujur, Kali mendapatkan kekuatan penuhnya. Dinyatakan dalam Veda Bhagavata Purana bahwa tatkala Tuhan Sri Krishna kembali ke dunia rohani, maka dharma, sifat-sifat kebajikan, keindahan, kesucian dan kejayaan pergi mengikuti-Nya. Karena itulah Kali perlahan-lahan dapat menguasai pikiran manusia.
Dikisahkan dalam Adi Parva dari Veda Mabaharata bahwa setelah Pandava mencapai alam rohani, Bumi diperintah oleh Maharaja Pariksit. Pariksit adalah cucu Arjuna, Putra Abhimanyu yang perkasa. Maharaja Pariksit adalah satu-satunya keturunan Pandava yang masih hidup dan berhak menjadi raja. Atas perlindungan Tuhan Sri Krishna, Pariksit terhindar dari senjata Brahmastra yang hampir membunuhnya ketika di dalam kandungan.
Suatu hari, Maharaja Pariksit sedang bepergian untuk melihar wilayah kekuasaannya di tepi sungai Sarasvati. Saat itu beliau melihat seorang manusia rendahan sedang memotong kaki seekor lembu jantan. Seekor lembu betina meratap di dekatnya. Maharaja turun dari keretanya, mencabut pedangnya dan berniat menghukum mati manusia pendosa itu.
Manusia berkulit hitam bagaikan arang itu ternyata bukanlah manusia, namun adharma dalam wujud Kali. Dia muncul berpakaian seperti seorang ksatria. Mengetahui bahwa Kali telah memasuki Bumi, Maharaja Pariksit berniat membunuhnya saat itu juga agar peradaban manusia tidak merosot. Namun, Kali begitu licik. Dia bersujud di kaki Maharaja dan memohon ampunan. Dia berkata, “Wahai maharaja, tidaklah tepat bagi seorang raja menghukum orang asing yang memohon perlindungan di wilayah kerajaan Anda.”
Maharaja Pariksit menyadari bahwa zaman Kaliyuga akan segera tiba. Namun Maharaja tidak bisa membiarkan benih-benih perbuatan berdosa berkembang dalam wilayah kerajaannya. Karena itu, Maharaja Pariksit hanya memberikan empat tempat di mana Kali atau adharma bisa tinggal. Keempat tempat itu adalah tempat minuman keras diperjual-belikan, tempat di mana orang-orang berhubungan badan di luar nikah, tempat perjudian dan rumah jagal. Keempat tempat itu adalah sarang bagi Kali.
Namun Kali tidak puas karena keempat itu hampir tidak ada di Bumi pada zaman itu. Kalaupun ada, jumlahnya amat sedikit. Lalu, dengan liciknya Kali memohon satu tempat lagi. Dia memohon izin tinggal di mana emas ditimbun, sebab di mana ada emas, di sana pasti ada pertengkaran dan duka cita.
Apakah Iblis Kali Menyebabkan Orang Berdosa?
Sebagaimana lumrahnya di sinetron televisi dan media lain, ketika seseorang melakukan dosa, dia menyalahkan iblis sebagai sosok yang mendorongnya berbuat dosa. Jadi, iblis seolah-olah adalah biang keladi semua kejahatan manusia.
Pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang kekanak-kanakan. Seorang anak melempar bola dan mengenai kaca rumah tetangganya, tapi dia malah menyalahkan si pembuat bola.

Sama halnya ketika seseorang berbuat dosa, maka itu adalah karena nafsunya sendiri. Kali (iblis, katakanlah begitu), adalah agen untuk memberi dia kesempatan melakukan perbuatan dosanya. Setiap makhluk hidup memiliki kebebasan berpikir dan bertindak atas dasar pemikiran dan kecerdasannya. Ketika dia memilih untuk tidak melakukan kejahatan, maka itu adalah kecerdasan. Ketika dia memilih melakukan perbuatan berdosa karena nafsunya, maka itu adalah kegelapan. Kali adalah agen untuk memfasilitasi kegelapan pikiran manusia. Manusialah yang sesungguhnya memilih untuk hidup dalam kegelapan. Di sinilah pentingnya seseorang memiliki pengetahuan rohani tentang mana yang benar dan mana yang salah. Di Zaman Kaliyuga, pengetahuan suci seperti inilah yang dihancurkan oleh Kali sehingga umat manusia kehilangan pedoman. Dengan hilangnya pedoman suci yang terang itu, pikiran manusia akan cenderung mengarah ke dalam kegelapan.
Jadi, Kali sesungguhnya tidak bisa menghasut manusia kecuali manusia sendiri yang memilih menuruti nafsu, loba dan amarahnya. Hal ini disabdakan sendiri oleh Tuhan dalam Bhagavad-gita:
śrī-bhagavān uvāca
kāma eṣa krodha eṣa rajo-guṇa-samudbhavaḥ
mahāśano mahā-pāpmā viddhy enam iha vairiṇam
(Veda Bhagavad-gita 3.37)
Tuhan Sri Krishna bersabda, “Wahai Arjuna, hanya hawa nafsu saja, yang dilahirkan dari hubungan dengan sifat nafsu material dan kemudian diubah menjadi amarah, yang menjadi musuh dunia ini. Musuh itu penuh dosa dan menelan segala sesuatu.“
tri-vidhaḿ narakasyedaḿ dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ
kāmaḥ krodhas tathā lobhas tasmād etat trayaḿ tyajet
(Veda Bhagavad-gita 16.21)
Ada tiga pintu gerbang menuju neraka—hawa nafsu, amarah dan loba. Setiap orang bijak harus meninggalkan tiga sifat ini, sebab tiga sifat ini menyebabkan dirinya merosot.
Ketika Maharaja Pariksit memberi empat tempat tinggal untuk Kali, keempat tempat itu sesungguhnya tempat di mana manusia cenderung berbuat dosa. Ketika manusia memilih bergaul ke tempat-tempat maksiat, judi dan jagal, maka yang memilih dan memutuskan adalah manusia. Sekuat apa pun bisikan Kali, yang pada akhirnya melakukan tindakan adalah manusia. Jadi, pilihan tetap ada pada manusia. Kali sesungguhnya menjadikan pikiran manusia ini sebagai target. Ketika manusia kehilangan kecerdasannya dan melakukan dosa, Kali sukses.
Menjaga Pikiran dengan Nama Suci Tuhan Sri Krishna
Karena pikiran adalah target utama Kali, di Zaman Kaliyuga ini pikiran manusia terus-menerus diganggu. Itulah sebabnya, manusia perlu menambatkan pikirannya kepada Tuhan agar pikiran ini terbentengi dari pengaruh adharma. Ketika pikiran seseorang sudah berkonsentrasi pada suatu hal, maka dia tidak akan terganggu oleh hal lain. Inilah yang menjadi tujuan turunnya Tuhan Sri Krishna menjadi nama suci-Nya di zaman Kaliyuga ini.
kali-kāle nāma-rūpe kṛṣṇa-avatāra
nāma haite haya sarva-jagat-nistāra
(Veda Caitanya Caritamrta, Adi-lila 17.22)
Di Zaman Kaliyuga ini, Tuhan Sri Krishna turun dalam wujud nama suci-Nya sendiri. Hanya dengan mengucapkan nama suci-Nya, seseorang berhubungan langsung dengan Tuhan. Siapa pun dia, pasti diselamatkan oleh Tuhan.

Dinyatakan dalam kitab suci Veda bahwa siapa pun yang mendengar, mengucapkan, atau mengingat nama suci Tuhan Sri Krishna, maka dia akan dibentengi dari pengaruh adharma (Kaliyuga). Ketika manusia semakin banyak mendengar nama suci Tuhan dikumandangkan, di sanalah pikirannya menjadi terkonsentrasi kepada Tuhan dan menjadi suci.
Berkah tertinggi Tuhan bagi umat manusia di zaman Kaliyuga ini adalah nama suci-Nya. Dengan mengucapkan nama suci Tuhan Sri Krishna senantiasa, setiap orang—siapa pun dia—dapat diselamatkan dari kegelapan pikirannya sendiri.
Saat ini, banyak penyembah Tuhan Sri Krishna diejek, dihina, dan dipermalukan. Banyak orang dihasut agar tidak menjadi penyembah Tuhan. Lagi-lagi, ini adalah skenario Kaliyuga untuk menggoyahkan pikiran manusia. Ini adalah ujian pikiran baik bagi para penyembah Tuhan maupun mereka yang belum memahami. Apabila dengan satu atau lain cara seseorang bisa ingat dengan nama Tuhan Sri Krishna, maka dia beruntung. Ketika dia menghina, “Eh, itu penyembah Krishna! Jangan bergaul dengan dia, nanti otakmu dicuci!” maka secara tidak sengaja dia mengingat Sri Krishna. Dengan cara itu, dia juga disucikan.
Para penyembah Tuhan Sri Krishna menerima berbagai jenis hinaan dan caci maki, diskriminasi dan persekusi hanya demi kebaikan orang banyak. Dengan menerima hinaan, semakin banyak orang akan mengingat Sri Krishna, walaupun dalam rasa benci dan ejekan. Nama suci Tuhan bersifat mutlak dan rohani. Ketika seseorang mengingat-Nya dalam rasa benci, amarah, kasih sayang, atau ejekan, maka dia sama-sama mendapatkan berkah Tuhan.
Jadi, jangan pernah ragu untuk memuji nama suci Tuhan Sri Krishna. Janganlah hanya karena dihina, dicaci maki, dikucilkan atau diejek, orang berhenti memuja dan memuji Tuhan. Badan fisik ini memang adalah kumpulan daging, darah, lemak dan lendir. Jadi, ketika seseorang menghina kita, maka itu hanyalah hinaan bagi badan fisik yang memang pada dasarnya kotor dan menjijikkan. Sementara itu diri kita yang sejati—jati diri kita semua—adalah atma, atau roh, yang murni dan suci, yang penuh pengetahuan, kesadaran dan kebahagiaan.
Ketika kita dihina karena memuji Tuhan Sri Krishna, itu hanyalah hinaan terhadap badan fisik ini. Hinaan apa pun tidak bisa menyentuh diri kita yang sejati, yaitu atma. Jadi, dalam keadaan apa pun, teruslah mengucapkan nama suci Tuhan Sri Krishna, dan berbahagialah dalam pengetahuan rohani di tengah kemelut dunia fisik ini.








