Perjalanan Roh Setelah Kematian
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal dari sebuah perjalanan kosmis yang panjang dan menegangkan. Dalam tradisi Veda, khususnya menurut Veda Garuda Purana, nasib roh (atma) setelah terlepas dari belenggu badan jasmani sangatlah bergantung pada karma (perbuatan) semasa hidup serta bakti keluarga yang ditinggalkan. Bagi roh yang berdosa, kematian adalah gerbang menuju penderitaan panjang. Dalam tulisan ini akan dikupas tuntas proses pergantian badan sang roh, perjalanannya yang menyiksa melintasi 16 kota gaib, hingga betapa pentingnya upacara kematian guna membantu perjalanan roh tersebut.
Momen Kematian dan Proses Pergantian Badan
Ketika saat kematian tiba, utusan Dewa Yama yang berwajah mengerikan—sehitam burung gagak dengan rambut berdiri dan membawa jerat serta tongkat—akan datang untuk menjemput. Roh yang ukurannya hanya sebesar ibu jari ditarik paksa keluar dari tubuh jasmaninya sambil menjerit ketakutan. Setelah dicabut, leher roh tersebut dijerat dan ia diberi semacam “badan siksaan” (badan penderitaan) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Namun, roh tersebut tidak langsung dibawa ke pengadilan. Selama sepuluh hari pertama setelah kematian, roh ini mengalami proses pembentukan badan baru (seukuran satu hasta atau siku) yang terbentuk secara bertahap melalui persembahan nasi dan air (pinda) dari sanak keluarganya di bumi. Proses pembentukan badan baru ini sangat sistematis. Pinda hari pertama membentuk bagian kepala; hari kedua membentuk leher dan bahu; hari ketiga membentuk jantung; hari keempat punggung; hari kelima pusar; hari keenam pinggul dan organ rahasia; hari ketujuh paha; dan pinda hari kedelapan serta kesembilan membentuk lutut dan kaki.
Pada hari kesepuluh, tubuh jasmani halus ini telah lengkap dan mulai merasakan siksaan berupa rasa lapar dan kehausan yang luar biasa. Pada hari kesebelas dan kedua belas, roh tersebut akhirnya dapat memakan persembahan yang diberikan oleh keluarganya.
Hari Ke-13: Awal Perjalanan yang Menyakitkan
Tepat pada hari ketiga belas, masa tenggang roh di dekat keluarganya berakhir. Roh yang kembali diikat dengan tali oleh pelayan Yamaraja dipaksa berjalan sendirian menempuh jalan penderitaan layaknya seekor kera yang tertangkap. Perjalanan yang harus ditempuh menuju kerajaan Raja Keadilan (Yama) ini membentang sejauh 86.000 Yojana (sekitar satu juta kilometer).

Kondisi perjalanan ini sama sekali tidak mudah. Roh dipaksa berjalan tanpa tempat berteduh, tanpa air, dan disengat oleh panasnya 12 matahari yang menyala terang. Sesekali roh itu ditusuk oleh angin dingin yang menusuk tulang, tubuhnya tercabik duri, disengat ular berbisa, dan digigit oleh anjing serta binatang buas lainnya.
Mengarungi 16 Kota Gaib dan Kengerian Sungai Vaitarani
Sepanjang perjalanan sejauh 86.000 Yojana tersebut, yang memakan waktu satu tahun penuh, roh dipaksa melintasi enam belas kota perhentian. Kota-kota ini meliputi: Saumya, Sauripura, Nagendrabhavana, Gandharva, Shailagama, Krauncha, Krurapura, Vichitrabhavana, Bahwapada, Duhkhada, Nanakrandapura, Sutaptabhavana, Raudra, Payovarshana, Sitadhya, dan Bahubhiti.
Setiap kota memiliki karakteristik siksaannya tersendiri. Di kota Saumya yang dicapai pada hari ke-18, roh hanya bisa menangisi keluarga dan hartanya yang tertinggal di bumi. Di Shailagama, roh dihujani oleh batu-batu tajam dari udara. Namun, yang paling mengerikan adalah ketika roh tiba di kota Vichitrabhavana pada bulan keenam.
Di sinilah letak Sungai Vaitarani yang sangat mengerikan, membentang sejauh seratus Yojana dengan arus darah dan nanah yang mendidih. Sungai ini dipenuhi lintah, ular, buaya raksasa, dan burung-burung bangkai berparuh baja. Bagi mereka yang tidak memiliki amal kebajikan, menyeberangi sungai ini adalah siksaan terburuk, di mana roh akan tenggelam dan tubuhnya dicabik-cabik. Apabila mereka memiliki amal kebajikan, akan ada perahu yang menyeberangi mereka.

Setelah lolos dari sana, roh melanjutkan perjalanan. Pada akhir satu tahun setelah kematiannya, roh akan tiba di kota Sitadhya yang udaranya seratus kali lebih dingin dari pegunungan Himalaya. Kota terakhir adalah Bahubhiti. Di kota Bahubhiti inilah, roh membuang tubuh sementaranya yang seukuran hasta, kembali menjadi ukuran ibu jari, dan bersiap memasuki ibu kota pengadilan Yama untuk diadili oleh Yamaraja. Di setiap kota perhentian ini pula, roh bertahan dengan memakan persembahan bulanan yang rutin diberikan oleh keturunannya di bumi.
Mengapa Upacara Kematian Sangat Penting?
Menilik betapa menderitanya perjalanan roh menuju pengadilan Yama, Garuda Purana sangat menekankan pentingnya upacara kematian (Sraddha) dan persembahan dari keluarga. Tanpa upacara kematian dan persembahan, roh tidak akan menerima badan baru untuk berpindah dimensi, menderita kelaparan yang hebat, dan akan terus mengembara di bumi sebagai hantu penasaran (preta). Preta ini mengganggu sanak keluarga dan menciptakan berbagai jenis penyakit dan penderitaan.
Sanak keluarga orang yang meninggal juga dapat membantu perjalanan roh ini agar penderitaannya dikurangi. Sebagai contoh, apabila sanak keluarganya memberikan dana punia berupa payung kepada seorang brahmana, vaisnava atau orang suci, hal itu akan memberikan keteduhan bagi roh dari panas terik dalam perjalanannya. Dana punia alas kaki oleh sanak keluarga akan memberi roh itu perlindungan saat berjalan di jalan berduri. Dana punia berupa air dan bahan makanan kepada brahmana, orang suci, atau vaisnava akan memberinya makan-minum saat kehausan di perjalanan. Salah satu persembahan paling penting adalah memberikan makanan suci kepada orang suci saat upacara sraddha. Memberi makanan setidaknya kepada satu, tiga, tujuh, atau sebelas brahmana oleh sanak keluarga akan dapat meringankan penderitaan roh yang melalui perjalanan di alam kematian.
Karena itulah, tradisi Veda menganjurkan seseorang mengundang brahmana, orang suci atau vaisnava untuk membacakan kitab suci Veda Bhagavad-Gita di hari kesebelas atau kedua belas, lalu diberikan dana punia serta makanan rohani (prasada). Hal ini akan meringankan beban penderitaan roh orang yang meninggal.
Seorang putra yang saleh dan religius adalah penyelamat sejati keluarganya, karena anaklah yang membebaskan leluhurnya dari penderitaan di jalan kematian. Dengan amal perbuatannya dan ketekunannya dalam rohani, anak itu adalah penyelamat sesungguhnya dari seluruh keluarganya.

Bukan Khayalan
Perjalanan roh setelah kematian bukanlah sebuah khayalan, melainkan manifestasi mutlak dari hukum karma yang universal. Kisah perjalanan 13 hari menuju pengadilan Yamaraja dan rintangan di 16 kota gaib mengajarkan kita bahwa hidup di dunia ini sangatlah singkat. Ini menjadi pengingat yang kuat agar kita senantiasa berbuat dharma semasa hidup. Bagi yang masih hidup, hendaknya tidak pernah melalaikan kewajiban suci untuk berbhakti di kaki-padma Tuhan.








