Acarya Terbesar Hindu, Srila Vyasadeva

Dalam sejarah panjang peradaban spiritual dunia, tidak ada orang suci yang lebih produktif dan berpengaruh dibandingkan Sri Krishna Dvaipayana Vedavyasa, atau yang lebih dikenal sebagai Srila Vyasadeva.

Bagi umat Hindu, beliau bukan orang suci yang ada dalam catatan sejarah Veda. Beliau adalah Maharsi Agung (acarya terbesar) yang menjadi muara dari seluruh ilmu pengetahuan suci Veda. Tanpa jasa beliau, mustahil bagi manusia modern untuk mengakses dan memahami ajaran Veda yang begitu luas dan kompleks.

Siapakah sebenarnya sosok agung ini dan mengapa beliau sangat dihormati dan wajib dipuja oleh seluruh garis perguruan Hindu dari cabang mana pun?

Srila Vyasadeva memiliki banyak murid terkemuka. Salah satunya adalah Sri Madhvacarya yang terpaut +3.000 tahun dengan beliau. Untuk bertemu gurunya, Sri Madhvacarya masuk ke dimensi lain di Himalaya dan bertemu langsung dengan Srila Vyasadeva di Badarikasrama (sumber gambar: BBT International).

Inkarnasi Tuhan (Saktyavesa Avatara)

Srila Vyasadeva lahir dari pasangan Rsi Parasara dan Dewi Satyawati sekitar 5.300 tahun yang lalu, bertepatan dengan era Mahabharata. Dalam sejarah Veda, beliau bukanlah jiva biasa, melainkan Saktyavesa Avatara—inkarnasi Tuhan yang turun secara khusus dengan membawa kekuatan (sakti) tertentu untuk menjalankan misi literasi rohani.

Karena beliau lahir di sebuah pulau (dvipa) di tengah-tengah sungai Gangga, maka beliau bernama “Dvaipayana“, dan karena rona kulit beliau kebiru-biruan seperti awan hujan yang sejuk, beliau diberi gelar “Krishna“. Gelar “Vyasa” sendiri bermakna “membagi” atau “memilah”. Sesungguhnya, jabatan “Vyasadeva” adalah posisi kosmis yang diemban oleh resi terpilih di setiap putaran zaman (Yuga). Saat ini, kita berada di putaran Kaliyuga ke-28 dalam masa pemerintahan Manu ketujuh (Vaivasvata Manu). Krishna Dvaipayana adalah Vyasa ke-28 yang bertugas di zaman ini.

Pada relief Candi Brahma di Prambanan, terdapat pahatan 27 rsi di panel luar candi. Ini menandakan bahwa dalam siklus Mahayuga di periode Manvantara sekarang, telah ada 27 Vyasa yang turun sebelum Srila Vyasadeva yang sekarang.

Menyelamatkan Veda di Zaman Kali

Sebelum zaman Kaliyuga (zaman kekacauan dan kemerosotan moral), Veda tidak perlu ditulis. Manusia di zaman Satya, Treta, dan Dvapara memiliki ingatan setajam silet (sruti), cukup sekali mendengar langsung hafal.

Namun, Srila Vyasadeva dengan visi rohaninya melihat bahwa manusia di zaman Kaliyuga akan memiliki umur pendek, kecerdasan tumpul, dan ingatan yang lemah. Atas belas kasihnya dan petunjuk dari guru kerohaniannya, beliau membagi Veda yang awalnya satu menjadi empat bagian (Catur Veda), serta menyusun Purana, Upanisad, dan Itihasa (catatan sejarah yang terkait dengan lila atau kegiatan rohani Tuhan).

Di Nusantara, beliau juga dikenal dengan nama Rsi Badarayana. Nama ini diambil dari tempat pertapaan beliau di Badarika Ashrama (Himalaya, di hulu Sungai Sarasvati) yang banyak ditumbuhi pohon bidara (badara). Nama ini sering muncul dalam literatur kuno Jawa dan pewayangan, membuktikan bahwa leluhur Nusantara memiliki koneksi sejarah yang kuat dengan ajaran beliau.

Penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam

Salah satu karya monumental beliau adalah Itihasa Mahabharata. Dengan kekuatan yoganya, Srila Vyasadeva mampu menyaksikan seluruh kejadian perang Kuruksetra dari pertapaannya, seolah menonton siaran langsung.

Karena banyaknya sloka yang harus dicatat (mencapai 100.000 sloka), beliau meminta bantuan Dewa Ganesha sebagai juru tulis. Dikisahkan, Ganesha menulis menggunakan patahan gadingnya tanpa henti mengikuti ucapan Vyasadeva yang mengalir deras.

Srila Vyasadeva memberi karunia pengelihatan rohani kepada Sanjaya (kusir kereta Dhrtarastra) agar dapat menyaksikan perang besar di Kuruksetra secara langsung dari jarak jauh (sumber gambar: BBT International).

Namun, puncak dari karya sastra beliau bukanlah Mahabharata. Setelah menyusun semua kitab, hati Vyasadeva masih merasa gundah dan hampa. Guru kerohaniannya, Narada Muni (putra Dewa Brahma), kemudian menegur dan menasihatinya. Narada menjelaskan bahwa Vyasadeva belum menyusun kitab yang secara spesifik dan eksklusif mengagungkan Tuhan Sri Krishna dan ajaran bhakti (pengabdian suci).

Atas petunjuk tersebut, Srila Vyasadeva kemudian menulis Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana). Kitab ini disebut sebagai nigama kalpa-taror galitam phalam “buah matang dari pohon Veda yang memenuhi segala keinginan”. Srimad Bhagavatam adalah intisari, kesimpulan, dan permata tertinggi dari seluruh pustaka suci Veda.

Srila Vyasadeva bertemu guru kerohaniannya, Devarsi Narada
(sumber gambar: BBT International)

Hari Suci Guru Purnima (Vyasa Purnima)

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, umat Hindu di seluruh dunia merayakan hari Guru Purnima yang jatuh pada bulan purnama di bulan Juli. Hari ini didedikasikan sebagai hari pemujaan kepada Srila Vyasadeva dan para guru suci dari berbagai garis perguruan Veda.

Srila Vyasadeva adalah guru semesta. Siapa pun yang ingin mempelajari Veda dengan benar, harus melalui garis perguruan (Guru-Parampara) yang bermuara pada Srila Vyasadeva. Mempelajari Veda di bawah bimbingan garis perguruan yang sah memastikan kita menerima pengetahuan suci Veda yang murni, otentik, dan bebas dari tafsir spekulatif, sebagaimana yang diwariskan oleh Sang Maharsi ribuan tahun silam.