Penjor dan Gebogan, Warisan Seni dari Bhagavata Purana

Bagi masyarakat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, pemandangan jalanan yang dipayungi lengkungan janur (penjor) dan susunan buah serta bunga yang menjulang (gebogan atau pajegan) adalah pemandangan yang lumrah, terutama saat hari raya Galungan atau piodalan pura.

Seringkali, tradisi ini dianggap murni sebagai “kearifan lokal” atau local genius semata—sebuah produk budaya yang terpisah dari ajaran induk Veda. Namun, jika kita menyelami pustaka suci Veda lebih dalam, kita akan menemukan bahwa estetika ini memiliki akar yang sangat tua, melintasi ribuan tahun sejarah, bahkan tersurat jelas dalam Veda Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana), salah satu dari 18 kitab purana utama.

Keindahan Penjor dan Gebogan bukanlah sekadar hiasan yang kini menjadi ikon budaya, melainkan jejak peradaban Veda yang lestari hingga hari ini. Penjor dan gebogan adalah bukti bahwa umat Hindu di Nusantara, khususnya di Bali, masih menjaga estetika Veda dari zaman Manu pertama.

Kesaksian dari Zaman Satya Yuga

Jauh sebelum peradaban modern terbentuk, tepatnya pada masa pemerintahan Manu Pertama (Svayambhuva-manu, ratusan juta tahun lalu), estetika penyambutan agung menggunakan unsur alam sudah diterapkan. Hal ini terekam secara otentik dalam kitab Srimad Bhagavatam Skanda 4, Bab 9, Sloka 54:

तत्र तत्रोपसंक्लृप्तैर्लसन्मकरतोरणै: । सवृन्दै: कदलीस्तम्भै: पूगपोतैश्च तद्विधै: ॥ ५४ ॥

tatra tatropasaṅkḷptair lasan-makara-toraṇaiḥ savṛndaiḥ kadalī-stambhaiḥ pūga-potaiś ca tad-vidhaiḥ

Artinya:

“Seluruh kota dihias dengan tiang-tiang terbuat dari pohon pisang berisi buah-buahan dan bunga-bungaan, dan pohon sirih dengan daun dan cabangnya terlihat di sana-sini. Ada juga banyak gerbang yang terhias dengan hiasan lengkung yang tampak seperti badan hiu yang melengkung.”

Mari kita bedah simbolisme Sanskrit dalam sloka tersebut:

  1. Lasan-makara-toraṇaiḥ: Torana berarti gerbang, dan Makara adalah makhluk air yang menyerupai hiu. Hiasan gerbang yang melengkung menyerupai punggung Makara ini sangat identik dengan Penjor, yang melengkung anggun menaungi jalan sebagai simbol naga (Basuki/Anantaboga) atau gunung yang memberikan kesejahteraan.
  2. Kadalī-stambhaiḥ: Tiang-tiang dari batang pohon pisang.
  3. Savṛndaiḥ: Berisi buah dan bunga.

Gabungan batang pisang yang dihias buah dan bunga ini adalah deskripsi harfiah dari apa yang kita kenal sekarang sebagai gebogan atau pajegan. Ternyata, apa yang dilakukan leluhur di Nusantara adalah pelestarian budaya Veda yang otentik.

Veda Bukanlah “Menjadi India”

Penemuan korelasi antara Srimad Bhagavatam dan tradisi Nusantara ini membawa pesan filosofis yang penting. Mempelajari Veda tidak berarti kita harus menjadi (seperti) orang India. Veda adalah pengetahuan universal, sebuah manual kehidupan (manual of life) bagi jiwa (atma). Esensi dari ajaran Veda adalah memperdalam Sraddha (keyakinan) dan mematangkan Bhakti (cinta kasih) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Budaya, bahasa, dan ornamen lokal adalah wadah atau kendaraan untuk mengekspresikan rasa bakti tersebut.

Ketika seorang umat Hindu di Indonesia membuat penjor dengan penuh ketelitian, atau seorang ibu menyusun gebogan dengan penuh kesabaran, mereka sedang mempraktikkan Bhakti Yoga. Mereka mempersembahkan keindahan, waktu, dan rasa seni mereka kepada Tuhan, persis seperti yang dilakukan warga kerajaan Dhruva Maharaja di zaman dahulu.

Keindahan dalam Keberagaman (Unity in Diversity)

Dunia rohani, sebagaimana dijelaskan dalam Veda, bukanlah tempat yang kaku, monokrom, atau seragam. Tempat tinggal Tuhan penuh dengan variasi, warna-warni, musik, dan keindahan artistik. Oleh karena itu, segala bentuk kebudayaan di dunia material ini adalah mulia, selama tujuannya untuk persembahan bhakti kepada Tuhan. Itulah sebabnya Hindu tidak melarang warna-warni, seni, tarian, atau lagu. Segala hal estetika adalah ungkapan rasa atma dalam kerinduannya kepada Tuhan.

Penjor dan gebogan mengajarkan kita bahwa alam semesta adalah altar pemujaan. Kita mengambil hasil bumi (buah, janur, bambu, bunga), merangkainya dengan estetika budaya setempat, dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta sebagai ungkapan syukur.

Jadi, ketika kita melihat penjor meliuk diterpa angin atau gebogan yang tersusun rapi, ingatlah bahwa itu bukan sekadar adat. Itu adalah gema dari dunia rohani yang mengingatkan kita bahwa keindahan adalah bahasa cinta antara manusia dan Penciptanya.