Tidak Ada Kebahagiaan di Alam Material Ini

Tuhan telah memberikan benih cinta kepada semua makhluk. Sayangnya, benih cinta yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan itu disalahgunakan dan menjadi ikatan pada nafsu di dunia. Itulah akar mula segala penderitaan makhluk hidup.

SETIAP manusia pasti mendambakan kebahagiaan. Kita semua ingin hidup damai dan bahagia. Namun, seringkali kebahagiaan itu cepat berlalu. Rasa cemas kemudian datang menggantikan senyum kita. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita merenungkan pesan suci Veda. Simaklah sloka dari Bhagavad-gita 18.78 berikut ini.

यत्र योगेश्वर: कृष्णो यत्र पार्थो धनुर्धर: ।
तत्र श्रीर्विजयो भूतिर्ध्रुवा नीतिर्मतिर्मम ॥ ७८ ॥

yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo yatra pārtho dhanur-dharaḥ
tatra śrīr vijayo bhūtir dhruvā nītir matir mama

Artinya: “[Sanjata berkata:] Di manapun ada Sri Krishna, penguasa semua ahli kebatinan, dan di manapun ada Arjuna, pemanah yang paling utama, di sana pasti ada kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa dan moralitas. Itulah pendapat saya.”

Pesan Dharma nan indah ini dijelaskan oleh Guru Pandita. Beliau adalah Sri Sriman Ida Dewa Agung Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa. Beliau mengingatkan kita tentang sebuah fakta kehidupan. Sejauh apapun kita mengejar bahagia di dunia ini, kecemasan pasti menyusul. Alasannya sangat sederhana. Kebahagiaan di alam material pasti akan berakhir. Inilah yang disebut sebagai maya-sukha. Itu adalah kebahagiaan yang berkedip-kedip. Sifatnya tidak kekal dan sementara saja.

Dalam skola tersebut dinyatakan bahwa di mana pun ada Sri Krishna dan Arjuna, di sana pasti ada kekayaan, kemenangan, kekuatan tiada tara, dan moralitas. Setiap orang pasti ingin kaya, ingin selalu menang, ingin jadi kuat dan ingin menjadi teladan bagi orang lain. Bagaimana hal itu bisa seseorang dapatkan? Sloka ini menyatakan bahwa apabila seseorang menempatkan Tuhan Sri Krishna dalam istana hatinya, maka segala hal itu akan dia dapatkan.

Rasa, atau perasaan, adalah cermin hati seseorang. Apabila perasaan ini kita fokuskan kepada Tuhan Sri Krishna, maka kita telah membuatkan Tuhan sebuah stana atau tempat di hati kita. Arjuna adalah contoh sempurna bagaimana seorang penyembah Tuhan, yang menyerahkan segenap perasaannya kepada Tuhan. Apa yang terjadi ketika Arjuna melakukan itu? Kemenangan, kekuatan, kekayaan dan moralitas segera terwujud dalam dirinya.

Hal ini bukan berarti bahwa ketika seseorang menjadi penyembah Tuhan Sri Krishna dalam bhakti yoga, dia akan segera bahagia, kaya raya, selalu menang, dan menjadi sakti mandraguna. Samasekali tidak. Makna sloka ini adalah bahwa kebahagiaan hakiki itu tidak ada di alam material ini, tetapi di dunia rohani. Kita akan mendapatkannya di dunia rohani yang kekal, sebab hakikat alam material ini adalah pasti tidak kekal. Tuhan ingin kita kembali bersama-Nya, bukan menderita di alam material ini.

Lalu, bagaimana cara meraih kebahagiaan sejati itu? Kebahagiaan sejati itu bernama sat-cit-ananda. Artinya kebahagiaan dalam kesadaran rohani penuh. Hal ini hanya bisa dicapai lewat cinta. Yaitu cinta bhakti murni kepada Tuhan Sri Krishna. Seorang penyembah murni senantiasa merasakan kebahagiaan ini. Baik ketika mereka berada di bumi atau surga. Bahkan di neraka sekalipun, mereka tetap bahagia.

Hanya saja, tahap cinta murni butuh proses. Seseorang harus menekuni proses vaidhi bhakti. Ini adalah jalan bhakti yang dibimbing. Bayangkanlah saat Anda sedang belajar menyetir mobil. Ketika masih latihan, Anda butuh instruktur. Anda harus selalu dibimbing oleh ahlinya. Setelah lulus, barulah Anda bisa menyetir dengan lihai. Begitu juga dalam kehidupan rohani kita. Sebelum memiliki prema atau cinta murni, kita butuh guru. Kita wajib berada di bawah bimbingan guru kerohanian. Carilah guru yang tulus dan terpercaya.

Proses latihan ini sebenarnya sangat indah. Kita bisa melatihnya dalam keseharian. Mulailah dengan berjapa Mahamantra Hare Krishna setiap hari. Lakukanlah vrata atau pantangan suci. Cobalah rutin berpuasa pada hari Ekadasi. Tekunlah mendengar ajaran kitab suci Veda. Biasakan menyantap prasadam atau makanan suci. Makanan ini telah dipersembahkan kepada Tuhan. Semua kegiatan ini akan membersihkan hati. Kita pun akan maju dalam jalan bhakti.

Guru Pandita juga menekankan hakikat rohani kita. Tuhan Sri Krishna bersemayam di hati setiap makhluk. Beliau hadir sebagai Paramatma atau Roh Utama. Tuhan memberikan benih prema kepada kita semua. Sayangnya, cinta ini sering kita salah gunakan. Kita memakainya untuk memuaskan nafsu indria. Cinta yang murni akhirnya berubah menjadi nafsu. Nafsu inilah akar segala penderitaan di dunia.

Kita harus sadar akan hakikat cinta itu. Prema sesungguhnya adalah milik Tuhan Sri Krishna. Cinta itu harus dipersembahkan kembali kepada-Nya. Itulah jalan pelayanan kasih rohani. Hanya dengan cara itulah roh bisa bahagia. Jiwa kita akan tenang yang sebenar-benarnya. Jika cinta ini disalahgunakan, kita akan terikat. Kita terjerat oleh hukum karma. Aksi dan reaksi perbuatan akan membelenggu kita. Itulah penyebab utama penderitaan di alam material.

Oleh sebab itu, bhakti adalah kunci utama. Bhakti berarti cinta kasih rohani kepada Tuhan. Rasa inilah yang mengikat kita kembali kepada-Nya. Kita melatih rasa ini setiap hari. Kita mendengar kemuliaan Tuhan atau sravanam. Kita memuji nama suci Tuhan atau kirtanam. Kita juga selalu mengingat Tuhan atau smaranam. Semua dilakukan di bawah bimbingan guru yang murni.

Ingatlah juga satu hal penting. Kesulitan hidup adalah sebuah ujian. Di sanalah kadar cinta bhakti kita diuji. Apakah cinta kita kepada Tuhan itu tulus? Ataukah hanya sekadar pertunjukan atau show belaka? Karena itulah para penyembah sering mendapat cobaan. Mereka kerap menghadapi gangguan dan hinaan. Di titik itulah keteguhan hati dibuktikan. Kitab Bhagavad-gita menyatakan rahasia ini dengan tegas. Tanpa bhakti murni, Tuhan tidak akan tertarik. Tuhan Sri Krishna hanya tertarik pada cinta penyembah-Nya.