Untuk Apa Belajar Spiritual?

Seringkali kita menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk merawat penampilan fisik kita. Kita mendandani tubuh ini dengan sangat indah dan membanggakannya. Namun, Srila Prabhupada mengajak kita untuk merenungkan kenyataan akhir dari tubuh fisik yang kita pakai saat ini.

Tidak peduli seberapa indah kita merawat tubuh ini, hasil akhirnya selalu sama, yakni kehancuran. Srila Prabhupada menjelaskan berbagai cara masyarakat menangani tubuh setelah kematian. Dalam tradisi Hindu, tubuh dibakar hingga akhirnya menjadi abu. Di beberapa komunitas lain, tubuh mungkin dibuang ke alam terbuka untuk dimakan oleh burung atau binatang, yang pada akhirnya proses pencernaan akan mengubah tubuh tersebut menjadi kotoran. Sementara itu, di negara-negara Barat, tubuh dikubur di dalam tanah. Setelah beberapa hari tubuh itu akan terurai dan kembali menjadi tanah.

Jadi, “efek akhir” dari tubuh fisik yang cantik dan tampan ini hanyalah menjadi kotoran, abu, atau tanah.

Menemukan Diri Sejati
Jika tubuh fisik ini pada akhirnya akan hancur, lantas apa sesungguhnya yang paling penting dan berharga dalam diri kita? Srila Prabhupada mengajukan pertanyaan penting ini: “Jika tubuh ini akan menjadi abu, tanah atau kotoran, lalu apakah diri kita yang sejati?” Jawabannya adalah roh (atma, jiwa, spirit).

Mengingat sifat tubuh fisik yang sementara, Srila Prabhupada mengingatkan agar kita tidak hanya terpaku pada fisik semata, melainkan harus berusaha untuk memahami “ilmu pengetahuan tentang roh”. Pemahaman ini adalah kunci untuk membebaskan diri dari kebingungan akan kematian dan perubahan fisik. Inilah mengapa orang harus belajar spiritual. Dengan belajar dan memahami bahwa kita bukanlah tubuh ini, kita akan mulai berpikir bahwa ada tujuan hidup yang lebih tinggi daripada sekadar hidup di dunia ini, makan, tidur, berketurunan, dan bertahan hidup. Tujuan yang lebih tinggi itu adalah agar kita memahami siapa diri kita yang sejati dan kembali ke alam di mana seharusnya kita berada, yakni alam roh yang kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan.

Hal ini dijelaskan secara sempurna dalam kitab suci Bhagavad-gita 2.13, yang menggambarkan perjalanan sang roh melampaui batasan fisik:

देहिनोऽस्मिन्यथा देहे कौमारं यौवनं जरा ।
तथा देहान्तरप्राप्तिर्धीरस्तत्र न मुह्यति ॥ १३ ॥

dehino ’smin yathā dehe kaumāraṁ yauvanaṁ jarā
tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati

Artinya: roh (atma) terkurung di dalam badan fisik terus-menerus mengalami perpindahan badan, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja, dari remaja sampai usia tua. Roh itu masuk ke dalam badan fisik lain pada waktu badan itu meninggal. Orang yang berpengetahuan tidak bingung karena penggantian badan itu.

Dengan memahami bahwa kita adalah roh yang kekal, penuh pengetahuan, dan penuh kebahagiaan, bukan sekadar tubuh yang akan menjadi tanah atau abu, kita dapat menjalani hidup dengan kesadaran dan tujuan yang lebih tinggi.

Anda bisa membayangkan tubuh fisik ini seperti bungkus kado yang indah. Kita mungkin menghabiskan banyak waktu memilih kertas yang bagus dan pita yang cantik untuk membungkusnya. Namun, penerima hadiah tahu bahwa bungkus itu (tubuh) pada akhirnya akan dirobek dan dibuang ke tempat sampah. Yang benar-benar berharga dan disimpan selamanya adalah isi hadiahnya (jiwa). Orang yang bijaksana tidak akan menangisi bungkus kado yang rusak, melainkan fokus menjaga isi hadiah tersebut.