Putradā Ekādāśi, Hari Puasa untuk Memperoleh Anak
Kisah Ekādāśi ini disarikan dari Veda Brahma Vaivarta Purana, Bagian Kṛṣṇa Janma Kaṇḍa IV.
Maharaja Yudhistira berkata, “O Tuhan, Engkau telah menjelaskan dengan lengkap tentang keagungan Saphala Ekādāśi (Pauṣya Kṛṣṇa Ekādāśi) yang jatuh menjelang bulan tilem pada bulan Pauṣya (Desember-Januari). Sekarang berkarunialah kepada hamba dan mohon uraikanlah hari Ekādāśi yang terjadi menjelang purnama di bulan Pauṣya. Apakah nama Ekādāśi tersebut? Arca mana yang sepatutnya dipuja pada hari yang suci tersebut? Wahai Puruṣottama. Wahai Hṛśikeśa, mohon jelaskan pula bagaimana Engkau bisa terpuaskan pada hari suci itu.”
Tuhan Sri Krishna menjawab, “Hai, Raja. Demi kepentingan umat manusia, Aku akan menjelaskan bagaimana cara melaksanakan puasa pada Pauṣya Śukla Ekādāśi.”
“Seperti yang Aku jelaskan sebelumnya, setiap orang yang menginginkan kesejahteraan hendaknya mengikuti semua aturan dan peraturan Ekādāśi sekuat kemampuannya. Demikian pula dalam melaksanakan Putradā Ekādāśi ini, yang menghancurkan segala dosa dan membawa ke dunia rohani. Arca-Ku yang bernama Nārāyaṇa hendaknya dipuja untuk menganugerahkan apa yang diinginkan. Dari semua makhluk yang bergerak maupun yang tidak bergerak di ketiga dunia ini, tidak ada kepribadian yang setara atau melebihi diri-Ku, yang adalah Nārāyaṇa sendiri.”
“Wahai, Raja. Sekarang Aku akan uraikan kepadamu sebuah cerita tentang Putradā Ekādāśi yang melenyapkan segala macam dosa dan menyebabkan orang menjadi termashyur dan terpelajar.”
Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Bhadravati. Kerajaan itu diperintah oleh Raja Suketuman. Permaisurinya bernama Śaibyā. Karena raja tidak mempunyai putra, dia selalu merasa cemas.
“Jika aku tidak mempunyai putra, siapa yang melanjutkan keturunanku?”
Raja merenung sepanjang hari dan berpikir, “Ke mana sebaiknya aku bertanya? Apa yang harus aku lakukan agar bisa memperoleh putra?”
Raja Suketuman tidak merasakan kebahagiaan dalam kerajaannya. Dia menggunakan lebih banyak waktunya untuk berkencan dengan istrinya karena menganggap dengan jalan itu dia akan memperoleh seorang putra.
Demikianlah baik Raja Suketuman dan Ratu Śaibyā, selalu dalam kesedihan. Saat mereka mempersembahkan tarpana (melakukan persembahan air pada leluhur) dan diiringi nyanyian suci, mereka malah semakin sedih. Mereka berpikir, tidak seorang pun akan mempersembahkan tarpana jika mereka mati nanti. Raja dan ratu khawatir leluhur mereka akan sedih karena tidak seorang pun keturunan yang akan mempersembahkan tarpana kepada mereka. Tiada seorang menteri, teman ataupun keluarga yang mampu mengibur mereka. Bagi raja, gajah, kuda dan tentara kerajaan tidak menarik hatinya lagi.
“Dalam kitab suci Veda dinyatakan bahwa tanpa anak, perkawinan hanya memboroskan waktu.”
Sesungguhnya, bagi orang yang bekeluarga tetapi tidak memiliki putra baik hati, rumahnya yang indah akan tetap terasa sunyi. Tanpa putra, seseorang tidak dapat membayar utangnya kepada leluhur, dewa-dewa dan umat manusia. Oleh karena itu, setiap orang yang telah bekeluarga hendaknya berusaha memperoleh seorang putra. Dengan demikian, dia akan terkenal di dunia ini dan akhirnya mencapai kerajaan surga yang indah. Seorang putra adalah bukti kegiatan saleh seseorang yang telah diperbuatnya selama seratus kali kehidupannya di masa lalu. Dengan itu, dia mencapai umur panjang di dunia ini, mempunyai badan yang sehat, dan kekayaan.
Raja tidak pernah merasa tenang memikirkan hal itu. Dia selalu cemas siang dan malam, dari pagi sampai sore dan dari saat mulai tidur sampai bangun keesokan harinya. Mimpinya penuh dengan hal-hal yang mencemaskan. Karena penderitaan itu, raja ingin mengakhiri hidupnya. Namun, dia masih menyadari bahwa dengan melakukan bunuh diri, dia akan lahir di neraka. Dia lalu mengurungkan niatnya itu.
Merasa bahwa dirinya akan hancur jika memikirkan hal itu terus-menerus, raja lalu menunggangi kudanya dan meninggalkan istana, pergi ke hutan. Tiada seorang pun baik pendeta, para brahmana maupun rakyatnya yang mengetahui ke mana raja pergi. Di dalam hutan yang penuh dengan rusa, burung dan binatang lainnya, Raja Suketuman berkelana tidak tentu arah. Melihat berbagai macam pohon dan belukar, seperti bilva, kurma, kelapa, nangka, bakula, saptapania, tinduka dan tilaka demikian pula sala, tola, tamala, sarala, hingota, arjunabhera, baheda, salaki, karonda, tatala, khaira, saka dan pohon palasa. Semuanya kelihatan indah dihiasi dengan bunga-bunga dan buah. Dia melihat rusa, harimau, babi hutan, singa, monyet, ular dan lembu jantan yang besar, sapi hutan dengan anak-anaknya, gajah, serigala, macan tutul, badak dan sebagainya. Melihat binatang-binatang tersebut semuanya bersama keluarga dan teman-temannya, sang raja ingat dengan binatang-binatang kerajaan, terutama gajah-gajahnya. Dia menjadi bertambah sedih dan lingkung, berkelana di antara binatang-binatang itu.
Tiba-tiba dia mendengar suara lolongan serigala di kejauhan. Tersentak, dia melihat ke segala arah. Hari sudah siang dan dia mulai lelah. Dia disiksa oleh rasa haus dan lapar. Dia berpikir, “Dosa apa yang telah aku lakukan sehingga aku menderita seperti ini. Kerongkonganku terasa kering dan terbakar. Aku telah lelah menyenangkan para dewa dengan berbagai macam korban suci dan pemujaan. Aku telah berdana punia kepada para brahmana. Aku memelihara rakyatku seperti anak-anakku sendiri. Namun, mengapa aku masih saja menderita? Dosa apakah yang menyebabkan aku tersiksa seperti ini?”
Sambil berpikir demikian, dia melangkahkan kakinya. Karena perbuatan saleh yang pernah dilakukannya, tanpa disadarinya dia tiba pada sebuah kolam yang indah yang menyerupai Danau Manasa-sarovara. Kolam itu penuh dengan berbagai jenis ikan, buaya dan tumbuh-tumbuhan air, rumput, teratai dan bunga padma yang indah. Angsa dan itik berenang dengan riang di air danau itu. Di sekitarnya ada pasraman yang indah, di mana banyak rsi dan pertapa suci sedang melakukan pertapaan. Mereka mampu memenuhi setiap keinginan orang dan selalu menginginkan kesejahteraan orang lain. Sewaktu sang raja melihat hal itu, tangan kanannya bergetar dan matanya menjadi sejuk, yang menandakan sesuatu yang baik akan terjadi.
Segera raja turun dari kudanya dan berdiri di hadapan para rsi yang duduk di pinggir kolam itu. Raja melihat mereka mengucapkan nama suci Tuhan dengan menggunakan japamala. Raja menyampaikan sembah sujud dan mencakupkan tangannya. Dia sangat bahagia berada bersama para orang suci.
“Selamat datang, wahai Raja. Mengapa Anda sampai tiba di sini? Apa maksud Anda datang ke sini?”
Raja menjawab, “Oh, para rsi yang suci. Siapakah kalian? Mengapa kalian juga berada do tempat yang indah ini?”
Para rsi menjawab, “Kami adalah para Visvedeva1. Maksud kami datang ke kolam yang indah ini adalah untuk mandi suci. Lima hari lagi bulan Magha akan tiba. Hari ini adalah hari Putradā Ekādāśi yang suci. Seseorang yang menginginkan putra hendaknya dengan taat melakukan Ekādāśi ini.”
Raja menjawab, “Hamba telah berusaha keras untuk bisa memperoleh seorang putra. Apabila Anda berkenan pada hamba, karuniailah hamba dengan seorang putra yang saleh.”
Para rsi menjawab, “Makna putradā adalah ‘yang bisa memberikan seorang putra’. Berusahalah untuk melaksanakan puasa penuh pada hari Ekādāśi ini. Jika Anda melaksanakan hal itu, atas karunia Tuhan Keśava (Sri Krishna), Anda akan memperoleh seorang putra yang saleh.”
Sesuai dengan nasihat para Viśvedeva, raja melaksanakan puasa Ekādāśi dengan tepat dan menuruti semua aturan dan peraturan. Keesokan harinya, pada hari Dvādāśi setelah dia berbuka puasa, raja menyampaikan sembah sujudnya kepada para rsi berulang kali.
Kemudian, Raja Suketuman kembali ke kerajaannya. Tak berselang lama, Ratu Śaibyā hamil dan sesuai dengan ramalan pada Viśvedeva, lahirlah seorang putra yang berwajah sangat cerah dan tampan. Di kemudian hari, putra mahkota ini sangat terkenal sebagai seorang raja besar. Raja sangat bangga sekali dengan putranya yang telah membangkitkan kembali semangat hidupnya. Putra Raja Suketuman itu sangat menyayangi rakyatnya, dan memelihara kesejahteraan mereka bagaikan anak-anaknya sendiri. Tuhan Sri Krishna bersabda, “Wahai Yudhistira. Siapa pun yang ingin memenuhi keinginannya hendaknya melaksanakan puasa Putradā Ekādāśi ini dengan taat. Jika masih di dunia ini, seseorang yang melaksanakan puasa Ekādāśi ini dengan taat akan memperoleh putra dan setelah meninggal akan mencapai mokṣa (pembebasan). Siapa pun juga, walau hanya membaca atau mendengar tentang kisah keagungan dari Putrada Ekādāśi ini akan memperoleh karunia yang sama seperti hasil yang diperoleh dari melaksanakan korban suci kuda (Aśvamedha Yajña). Demikianlah Aku telah menyampaikan hal ini kepadamu demi kesejahteraan umat manusia.”
Catatan:
1) Sepuluh Visvedeva (putra Visvā dan Dharma) yaitu Vasu, Satya, Kratu, Daksa, Kala, Kama, Dhrti, Pururava, Madrava dan Kuru.
2) Dalam bahasa Sanskerta, putra berasal dari kata pu dan tra. Pu adalah salah satu nama daerah di neraka sedangkan tra berarti membebaskan. Jadi kata Putra berarti “Seorang yang membebaskan orang tuanya dari neraka”. Oleh karena itu, setiap orang yang berkeluarga mendidik mereka dengan baik. Dengan demikian orang tuanya akan terhindar dari siksaan neraka. Tetapi bagi seorang bhakta Sri Visnu atau Sri Krishna yang tekun, anjuran ini tidak begitu berarti, karena baginya Tuhan sendiri adalah anak, ayah dan ibunya.








