Bebas dari Rasa Iri

“Orang bisa melihat apakah dirinya masih berdosa atau tidak dengan cara merasakan hatinya sendiri. Jika dia masih memiliki rasa iri hati (dengki, jealous, envious), itu adalah cacat dosa yang masih tertinggal di sukma sarira. Jika dia tulus dan tekun dalam proses bhakti ini, melakukan hari-bhajana (memuji nama suci Tuhan Sri Krishna) dalam pergaulan dengan orang-orang saleh, maka perlahan-lahan rasa iri hati itu akan sirna, dan dia mencapai kedamaian sepenuhnya.”

“Iri hati (mātsarya) adalah lawan dari cinta kasih rohani (prema). Akar dari iri hati ini adalah tunas nafsu (kāma) yang muncul akibat atma lupa pada dirinya yang sejati (svarūpa). Seiring waktu, rasa iri hati ini tumbuh bagaikan gulma yang membuat prema tidak dapat tumbuh subur.”— Śrīla Bhaktivinoda Ṭhākura

“Iri hati mengandung kegilaan, ilusi, keserakahan, kemarahan, dan nafsu di dalamnya. Seseorang yang tidak memiliki rasa iri hati tidak akan dikuasai oleh kemarahan, tidak sombong, dan akan menemukan kebahagiaan dalam kebahagiaan orang lain serta merasa sedih atas penderitaan sesama. Singkatnya, tidak adanya rasa iri hati adalah pembebasan (liberation), sedangkan memelihara rasa iri hati adalah keterikatan (entanglement).”— Śrīla Bhaktivinoda Ṭhākura

dharmaḥ projjhita-kaitavo ‘tra paramo nirmatsarāṇāṁ satām

Jalan rohani yang murni dalam Srimad Bhāgavatam sepenuhnya bebas dari kegiatan keagamaan yang menipu. Jalan rohani bhakti ini dipuja oleh mereka yang suci dan sepenuhnya bebas dari rasa iri hati. Seseorang yang tidak iri hati (nirmatsarata) berhak menerima pengetahuan ketuhanan tertinggi dari dharma, yaitu prema-rasa.—Veda Śrīmad-Bhāgavatam (1.1.2)

“Iri hati adalah sifat duniawi yang kasar, sebuah cacat atau noda yang melekat pada atma yang terikat. Orang-orang yang iri hati tidak dapat mentoleransi sifat baik dari orang lain. Mereka bukanlah penyembah Tuhan yang sejati. Seseorang yang mengembangkan rasa iri hati ini pasti jatuh dari kedudukannya dan tidak akan pernah bisa membuat kemajuan apa pun di jalan spiritual.”— Śrīla Goura Govinda Swami

“Sebagai jiwa yang terikat di alam material ini, secara alami orang menjadi sangat iri, tidak toleran, dan sombong. Cara untuk melepaskan diri dari semua sifat buruk ini adalah melalui pergaulan dengan orang-orang saleh (sādhu) dan dengan bersedia dididik oleh seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya. Atma yang terikat di alam material ini mutlak membutuhkan pergaulan rohani agar sifat-sifat buruk itu lenyap.”— Śrīla Goura Govinda Swami

”Kompetensi dan persaingan material adalah penyakit duniawi. Kejatuhan kita ke dunia material ini dimulai ketika kita ingin bersaing dengan Tuhan Sri Krishna atau menjadi iri kepada-Nya. Seluruh kehidupan material ini penuh dengan rasa iri hati—saya iri kepada Anda, dan Anda iri kepada saya. Seseorang tidak akan pernah bisa bebas dari rasa iri kecuali ia menjadi seorang penyembah Tuhan Sri Krishna yang murni.”— Śrīla Bhaktivedānta Swami Prabhupāda

“Bagaimana cara mengatasi rasa iri? Kita harus belajar untuk puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepada kita (yad-ṛcchā-lābha-santuṣṭa) dan tidak membanding-bandingkan diri atau bersaing secara material dengan orang lain. Jangan menjadi iri jika melihat seseorang mendapatkan karunia atau kesuksesan lebih dari Tuhan. Fokuskan waktu dan energi Anda untuk mengembangkan kesadaran rohani, bergaul dengan para penyembah Tuhan, dan menggunakan apa yang Anda miliki demi kepuasan Tuhan.” — Śrīla Bhaktivedānta Swami Prabhupāda